Membangun Pariwisata Sulsel dari Berbagai Aspek

Sebuah poster besar baru-baru ini dipajang pemerintah untuk memberikan informasi kepada rakyat atas pencapaian Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah mengenai masuknya Sulawesi Selatan sebagai 10 besar daerah dengan perkembangan pariwisata tercepat. Pengguna lalu lintas seperti saya menjadi berbangga karena dengan berbagai keindahan yang kita miliki, akhirnya masuk juga dalam sebuah penghargaan, ini menjadi berita besar bagi Makassar dan Sulawesi Selatan sebagai pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia yang kini mulai membangun.

Tapi pencapaian itu tentunya bukan menjadikan kita menutup mata dan telinga dalam menjaga peningkatan pengembangan pariwisata di Sulawesi selatan tetap berjalan. Karena pekerjaan seperti ini bukanlah perkara satu tahun saja, melainkan sebuah pekerjaan berkesinambungan dalam sebuah proses yang saling berkaitan. Saat ini boleh jadi kita berbangga karena meraih penghargaan tersebut, tapi yang menjadi pertanyaan, apakah hal itu masih terjadi dalam 10 tahun kedepan? Kalau misalnya tidak ada program jangka panjang pemerintah untuk membenahi dan menjaga infrastrukturnya.

Sebuah slogan tentunya belum menjadi indikasi kita harus berhenti untuk membangun, tetapi perlu upaya keras, kreatif, dan teliti dalam menjaga warisan alam dan budaya yang sangat tinggi nilainya. Kalau kita jalan-jalan ke Tana Toraja misalnya, maka wisatawan akan terkesima dengan keindahan alam, budaya dan rumah adat yang dimiikinya. Akan tetapi mereka hanya terhenti pada objek tersebut. Padahal kebutuhan wisatawan kini sangat beragam. Seperti halnya kebutuhan akan sarana seperti toilet yang bersih, keamanan, pemandangan tanpa sampah dan penataan yang bagus masih menjadi kebutuhan yang utama dalam berwisata.

Tapi semuanya itu belum didapatkan di sekitar objek wisata. Di kete kesu misalnya, belum ada toilet bersih bagi wisatawan, yang kiranya dirancang lebih alami dengan nuansa toraja yang kuat sehingga wisatawan tidak perlu kembali ke hotel lagi hanya untuk buang air kecil. Hal itu dijumpai juga di berbagai objek wisata se antero Sulawesi Selatan, selain karena tidak ada pembangunan, juga kalaupun ada, warga sekitar belum menyadari arti pentingnya toilet bagi wisatawan sehingga kalau dibangun di semester pertama, belum genap berganti tahun coretan dan disfungsi toilet akan segera ditemui. Kerusakan terjadi di mana-mana oleh karena ulah dari masyarakat yang masih kurang sadar. Sehingga wisatawan dari negara seperti Jepang dan Singapura yang sangat memperhatikan kebersihan akan memberikan catatan buram akan kondisi objek wisata yang kita miliki. Sarana berupa toilet bersih adalah satu contoh fasilitas yang harusnya memadai. Bebas dari sampah, jalan yang bagus, penataan toko-toko souvernir, tersedianya transportasi yang nyaman juga menjadi catatan dari problematika pariwisata kita. Sebuah hal kecil memang, tapi berdampak besar bagi kunjungan wisatawan ke daerah kita.


Kete Kesu, salah satu objek Wisata di Toraja Utara, masih perlu mendapatkan pengembangan
Setelah kebersihan, hal yang menjadi catatan penting pariwisata Sulawesi Selatan adalah keamanan. Demonstrasi yang anarkis memang menjadi momok yang menakutkan bagi wisatawan, karena tak ada satupun wisatawan yang berharap untuk terkena lemparan batu dari massa yang saling melempar. Lagipula Makassar dan sekitarnya sudah terkenal dengan image anarkis dan tawuran. Sebuah ‘pencapaian’ yang tidak boleh ditingkatkan karena yang mendapat image buruk adalah seluruh warga dan daerah Sulawesi selatan. Dalam sebuah interaksi dengan warga Jakarta misalnya, hal pertama yang dipertanyakan adalah “Makassar memang anarkis yah?apakah itu sudah menjadi budaya?amankah berkunjung ke Makassar?” Sebuah pertanyaan yang ujungnya mengarah kepada ketidak percayaan dari aktivitas yang tidak kita kerjakan. Dari keamanan berdampak pada pariwisata Sulawesi Selatan. Berbagai kunjungan akibat peristiwa demonstrasi pun terus berdatangan. Informasi yang didapatkan, kabarnya Sultan Trengganu yang berencana mengunjungi Sulawesi Selatan pada tanggal 4 April 2012 membatalkan kunjungannya karena faktor keamanan Makassar yang tidak kondusif.

Padahal dalam kunjungan sebuah rombongan kenegaraan seperti itu merupakan pendapatan bagi daerah kita. Penjual souvenir akan mendapat calon pembeli baru. Bisnis warung makan dan catering mendapatkan tambahan order, juga bagi pengelola sanggar seni bisa dipastikan mendapat tempat untuk menghibur mereka semua. Interaksi dan perputaran ekonomi terjadi di sini. Dan karena kemanan yang tidak kondusif, semuanya lenyap dan tidak terjadi. Sebuah kesempatan yang hilang begitu saja. Akan tetapi terlepas dari pro dan kontra demonstrasi, saya masih setuju ekspresi demokrasi dari mahasiswa dapat terus berjalan sepanjang tidak ada tindak pengrusakan fasilitas apalagi jika menghilangkan nyawa seseorang atas nama perubahan. Sebuah pelanggaran hak asasi manusia yang tidak boleh dibiarkan.

Berhubungan dengan demonstrasi sudah lewat dan kenaikan BBM diundur hingga enam bulan kedepan, aktivitas pariwisata kita harus tetap berjalan. Saat ini, program yang belum mendapat sentuhan maksimal adalah dari sisi promosi wisata media online. Saat ini kalau kita browsing di internet, terutama di Youtube, belum ada kita dapatkan iklan pariwisata berdurasi 2 menit yang memperkenalkan Sulawesi Selatan. Padahal daerah lain seperti Lombok dan Banda Aceh sudah memiliki iklan pariwisata yang sangat bagus. Program Visit Lombok 2012 sudah memiliki iklan berdurasi 1 menit 1 detik yang ‘menghipnotis’ kita untuk harus berkunjung kesana. Dan apakah kita terkendala dan membiarkan begitu saja?tentunya tidak. karena kita memiliki segudang sarjana yang memiliki kemampuan untuk mengerjakan proyek ini dengan hasil yang didapatkan juga berdampak besar pada jumlah wisatawan. Iklan tersebut kiranya dapat diputar di bandara, televisi nasional, di youtube dan berbagai fasilitas lain yang menarik perhatian orang banyak. Sehingga kita tidak perlu menghabiskan uang banyak ke Amerika Serikat misalnya hanya untuk menggaet warga sana, karena dari internet mereka bisa mengakses potensi dan keindahan Sulawesi selatan.



Sehingga di abad virtual ini dengan semakin banyaknya pengguna internet yang berjumlah sebanyak 239 juta pengguna di dunia ini, harusnya membuat kita lebih kreatif dalam membangun pariwisata kita. Karena dari arah yang tidak terduga, wisatawan akan datang mengunjungi tempat kita. Sepanjang kita tidak mengecewakan mereka yang sudah datang jauh-jauh tetapi mendapatkan hal yang berkebalikan dari promosinya. Yah, seperti yang saya katakan tadi. Bukan pekerjaan mudah dan singkat memang. Oleh karena itu dari sini, kita bisa menyadari pentingnya pariwisata sebagai andalan dari provinsi kita. Kerja pemerintah tidak akan bermakna jika tidak ada dukungan moril dan materil dari masyarakatnya. Oleh karena itu mari kita membangun pariwisata untuk kehidupan yang lebih baik. Satu slogan yang bermakna dalam pengembangan pariwisata kita adalah jangan pernah merusak jika tidak bisa memperbaiki.

EcoTourism, Masa Depan Pariwisata Sulsel

Dewasa ini isu lingkungan menjadi isu global yang hangat diperbincangkan seluruh negara. Di abad 21 ini bumi semakin tua saja dan terpuruk akibat ulah manusia dengan pembangunan fisik layaknya jamur di musim hujan. Jakarta, ibu kota negara telah menjadi hutan beton dan gedung-gedung bertingkat dengan perbandingan taman kota yang tidak ideal. Salah satu akibat yaitu banjir lima tahunan terus terjadi dan mengorbankan masyarakat luas. Sedangkan Kalimantan sebagai paru-paru dunia, rumah berbagai ribuan satwa liar, kini sudah disulap menjadi taman kelapa sawit dan tambang yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan karena menghilangkan separuh dari total hutan yang dimiliki.

Melihat kondisi ini, Sulawesi Selatan sebagai pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia dengan pembangunan yang signifikan harus melihat potensi bencana yang akan terjadi. Karena pembangunan yang tidak seimbang dengan pelestarian lingkungan akan berdampak serius pada munculnya berbagai masalah baik itu banjir tahunan, kekeringan jangka panjang, meningkatnya suhu, juga cuaca yang tidak menentu. Salah satu pembangunan yang signifikan di Sulawesi selatan adalah munculnya berbagai gedung-gedung tinggi dengan penggunaan energi tak terbarukan yang besar. Untuk keuntungan komersial, maka hal tersebut menjanjikan berbagai pihak, namun keuntungan dari sektor lingkungan menjadi sangat minim. Objek wisata pun kini semakin beragam diramaikan dengan mall-mall dan hiburan yang tidak lagi alami.

Sebenarnya bukan hal salah memang dengan adanya pembangunan tersebut, sepanjang masih ada kepedulian dari pemerintah dan masyarakat untuk menjaga lingkungan yang diwujudkan  kebijakan dan tindakan. Menyeimbangkan pembangunan dengan daerah resapan dan taman hijau sekitar 30 % dari luas kota menjadi salah satu kebijakan yang berorientasi lingkungan. Selain itu ada juga konsep pembangunan di sektor pariwisata berwawasan lingkungan, yaitu ecotourism atau ekowisata. Hal inilah yang bisa diaplikasikan dan dipikirkan dalam pembangunan pariwisata di Sulawesi Selatan kedepan dengan melihat semakin tipisnya daerah hutan dan objek yang masih alami. Juga untuk melihat sejauh mana konsep ini diaplikasikan dalam pengembangan pariwisata Sulawesi Selatan.


Sejarah Ekowisata
Ecoutourism atau ekowisata sudah lama menjadi pegangan dalam perbincangan global. Pada tahun 1987, rumusan ekowisata pertama kali ditemukan oleh Hector Ceballos-Lascurain yang mendefinisikan ekowisata sebagai berikut:
“Ecoutourism can be defined as tourism that consist in travelling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the specific objectives of studying, admiring and enjoying the scereny and its wild plants and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in the areas.”
Atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai berikut:
Ekowisata adalah perjalanan ke tempat-tempat alami yang relative masih belum terganggu atau terkontaminasi (tercemari) dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmari pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan satwa liar, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini”. Definisi ini menjadi pegangan dan panduan dalam diskusi ekowisata di seluruh dunia yang kemudian disempurnakan oleh The International Ecotourism Society (TIES) pada tahun 1990 sebagai berikut:

“Ecotorism is responsible travel to natural areas which conserved the environment and improves the welfare of local people”. Sedangkan menurut Fenell (1999) mendefinisikan ekowisata sebagai bentuk berkelanjutan berbasis sumberdaya alam pariwisata yang berfokus pada pengalaman dan pembenlajaran tentang alam dan yang berdampak etis rendah, non konsumtif dan berorientasi lokal. Ekowisatapun diatur dalam Undang-Undang Lingkungan Nomor 4 Tahun 1982 (diakses melalui situs ini )dengan tujuan pengembangan untuk:
1.    Tercapainya keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan hidup sebagai pembagian pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
2.    Terkendalinya pemanfaatan sumberdaya secara bijaksana.
3.    Terwujudnya manusia Indonesia sebagai pembina lingkungan hidup.
4.    Terlaksananya pembangunan yang berwawasan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan mendatang.
5.    Terlindunginya negara dari dampak kegiatan di luar wilayah negara yang dapat menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan.

Jika melihat objek wisata yang kita miliki sekarang, konsep ekowisata sudah mulai dilirik meskipun belum maksimal dalam tahap implementasinya. Untuk melihat konsep ini diaplikasikan adalah dengan menilai pengembangan objek wisatanya. Salah satunya adalah berupa taman nasional dimana di dalamnya terdapat beberapa objek wisata. Meskipun kita memiliki dua taman nasional yaitu Bantimurung Bulusaraung dan Takabonerate, tetapi menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk terus menjaga kelestariannya. Eksistensi aneka satwa di dalamnya menjadi sangat penting. Seperti kita ketahui bahwa Bantimurung memiliki 256 spesies kupu-kupu bantimurung, kuskus beruang (Ailurops Ursinus) dan primanta terkecil di dunia Tarsius Spectrum. Kera hitam (Dare, nama ilmiah Macaca Maura). Jika melintasi deretan pegunungan karst yang indah itu, sesekali pengendara mobil disajikan pemandangan melintasnya kera hitam sulawesi. Dulu, kejadian itu sangat sering ditemui. Akan tetapi akhir-akhir ini, penampakan dari kera ini sudah jarang ditemui, sehingga menjadi tugas dari masyarakat dan pemerintah untuk menjaga objek wisata alam tersebut. Kehilangan ciri dari sebuah objek menjadi pertanda hilangnya keistimewaan dari objek tersebut.

Takabonerate pun seperti itu. Keindahan taman lautnya menjadi harta yang tak ternilai harganya. Memiliki atol karang terbesar ketiga di dunia, Berbagai spesies langka dari ikan dan terumbu karang menjadi nilai jual yang sangat penting. Dimana terdapat sekitar 261 jenis terumbu karang dari 17 famili dan 295 jenis ikan karang yang bernilai ekonomis tinggi. Selain itu kejernihan air dan intensitas pencemaran yang masih kurang boleh jadi membuat kita masih berbangga. Tapi apakah keindahan dan kelestarian biota laut masih eksis berapa tahun lagi jika tidak ada pembangunan berkelanjutan berbasis pada konservasi daerah objek wisata.

Salah satu indikator dari terlaksananya konsep ekowisata adalah adanya penyadaran dan kerjasama dengan masyarakat untuk menjaga objek wisata untuk tetap alami. Baik dalam bentuk sosialisasi, workshop atau pelatihan. Dengan tujuan memberi pemahaman akan arti penting keberlangsungan objek wisata untuk persiapan masa depan. Saat ini belum ada informasi akurat mengenai ada tidaknya sosialisasi yang dilaksanakan pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat kepada masyakat akan ekowisata ini. sehingga perlu kiranya pemerintah untuk merancang program kerja untuk tidak menggunakan sianida, misalnya, pada kegiatan penangkapan ikan di kepulauan Kabupaten Selayar.

Ketika sosialisasi dan pelaksanaan sudah berjalan, pemerintah seharusnya tetap memikirkan upaya nyata dalam mendatangkan wisatawan. Proses ekowisata bisa terjadi jika adanya kedatangan wisatawan ke tempat wisata. Ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai adalah salah satu kunci keberhasilan dari pengelolaan objek wisata. Ketika objek wisata kita masih alami, bukan berarti bahwa tidak ada sama sekali pembangunan didalamnya. Aksesibilitas, aktivitas, amenitas, fasilitas dan akomodasi merupakan cakupan yang harus dimiliki dari sebuah objek wisata.

Kalau kita berjalan ke taman nasional Takabonerate misalnya, transportasi yang layak menjadi sarana yang wajib tersedia. Dermaga, toilet dan sistem telekomunikasi yang baik menjadi keharusan. Aktivitas warga harus ada sehingga sebuah kebudayaan hasil cipta manusia menjadi sajian paket wisata. Karena keberlanjutan disini diartikan sebagai upaya koservasi, baik itu konservasi berupa perlindungan terhadap ekologi, tetapi juga adanya koservasi budaya yang bertujuan untuk menjaga produk budaya (tarian, system adat, musik tradisional, cerita rakyat, dll) agar tidak hilang yang berujung pada peningkatan ekonomi yang berkelanjutan.

Sehingga dengan melihat kondisi dua taman nasional ini dimana terdapat berbagai objek wisata di dalamnya, masih perlu upaya dari pemerintah, masyarakat dan NGO untuk terus membangun objek dengan prinsip ekowisata demi keberlanjutan alam dan budaya kita. Dengan harapan beberapa tahun kedepan kelestarian itu tetap terjaga hingga generasi berikutnya. Karena ketika kerusakan terjadi, perlu upaya yang jauh lebih besar dan waktu bertahun-tahun untuk mengembalikan keaslian dari objek wisata ini. kedua objek ini baru dua dari sekian banyak objek wisata yang kita miliki, sehingga bukan menjadi tanggung jawab pemerintah saja untuk merawat dan mengembangkannya, tetapi partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan. Toh yang tinggal dan mendiami serta merasakan keuntungan adalah masyakarat sendiri. Oleh karena itu, kekayaan yang kita miliki sekarang adalah tanggung jawab kita yang harus disikapi dengan tindakan yang bijaksana.

Tanjung Bira Sangat Memperihatinkan

Masalah lingkungan akan tetap menjadi isu utama pada tahun 2012 ini. Karena dampak yang diberikan oleh aktornya terhadap kehidupan manusia dan kelangsungan ekosistem itu sendiri. Dan kerusakan lingkungan berdampak pada berbagai sektor  kehidupan, termasuk pariwisata. Karena lingkungan yang rusak akan memberikan ancaman keamanan bagi wisatawan, keindahan dari objek tersebut yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat karena menurunnya jumlah wisatawan.




Hal itu terjadi pada tanjung bira, sebuah tujuan wisata terkemuka di sulawesi selatan dengan pasir putih yang indah serta panorama alam yang mempesona. Tanjung bira menyajikan keindahan alam yang memikat hati wisatawan lokal maupun mancanegara. Kunjunganku kali ini merupakan yang pertama dan harus menerima kenyataan pahit, banyak sekali sampah laut yang terhampar di sepanjang pantai pasir putihnya. Terdapat banyak sampah botol dan kaleng, sisa rumput, pohon, dan organisme laut yang mati menjadi sampah yang sangat tidak mengenakkan. Merupakan kesan pertama yang tidak menyenangkan di tempat tersebut, meski jalanan masuk yang asri sudah menjanjikan nuansa alam yang indah di pantai itu.

Kamipun menghampiri salah seorang yang berada di pangkal pantai yang merupakan petugas kebersihan dari pantai tanjung bira. Dan wawancarapun berlanjut mengenai kondisi tanjung bira yang kotor. Berdasarkan penuturannya bahwa sampah ini merupakan sampah kiriman dari pulau dan daerah seberang akibat terjadinya angin musim barat. Angin itu berhembus mengarah ke sisi pantai yang mengakibatkan sampah yang berada di tengah laut akan tersapu menuju tanjung bira. Bukan kerusakan lingkungan katanya. Tetapi yang namanya kebersihan merupakan tanggung jawab kita bersama dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kemudian rumput laut dan karang2 yang hancur yang sedemikian banyak itu tidak mungkin terjadi kalau bukan ulah nelayan yang melakukan pengeboman. Suatu ciri dari masih terjadinya praktik menangkap ikan yang merusak.

Wawancarapun berlanjut, salah satu hal yang menyulitkan mereka karena jumlah tenaga kebersihan yang sangat kurang. Mereka hanya berjumlah 2 orang yang semuanya sudah berumur di atas setengah abad. Yang tidak mampu lagi berbuat maksimal dalam hal kebersihan. Kemudian upah pun tidak seberapa. Bahkan yang sangat parah adalah karena petugas kebersihan ini digaji oleh seorang pemerhati wisata asal daerah tersebut, bukan pemerintah. Sungguh ironis memang, ketika pemerintah menginginkan kotanya berkembang dan objek wisatanya dikenal dimancanegara tetapi tidak diimbangi dengan perawatan dan pembersihan yang maksimal. Yah begitulah jadinya kalau tidak ada perhatian yang cukup. Bahkan petugas kebersihanpun tidak ada. Ditambah lagi kesadaran dari penduduk sekitar yang kurang, karena hanya mereka berdua saja yang rela memungut dan membersihkan sampah di sekitar pantai.

Sungguh disayangkan memang, melihat potensi yang dimiliki daerah tersebut dibanding dengan kinerja pemerintah dan masyarakat sekitar. Padahal ada banyak cara yang bisa dilakukan. Duta pariwisata dara daeng bulukumba bisa mempromosikan dan mengangkat isu ini ke tengah masyarakat agar tidak menjadi pekerjaan tahunan yang berlalu begitu saja. Karena lingkungan yang kotor merupakan tanggung jawab bersama. Selain itu siswa SMA juga bisa diberdayakan dengan melakukan pembersihan pantai secara rutin (sadar wisata). Selain itu perlu juga slogan-slogan yang mengarahkan wisatawan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Dan koordinasi yang baik antara dinas pariwisata dan dinas kebersihan juga patut ditingkatkan mengingat pemerintah tetap menjadi aktor utama dalam pengelolaan kota dan objek wisatanya. Jadi hal kecil seperti ini perlunya diperhatikan selain promosi yang memakan banyak biaya.

Selain kebersihan, penataan objek wisata tanjung bira masih perlu mendapatkan perhatian yang serius. Terlebih pada penataan penjual yang berada di pangkal pantai. Pemasangan tiang-tiang, tenda yang semaunya sangat merusak pemandangan. Kayu-kayu dipasang sekenanya saja dan tidak tertata dengan rapi. Kayu-kayu yang hampir rapuh dibairkan begitu saja. Kayu gelondongan ‘diparkir’ begitu saja di tepi pantai. Sungguh tidak terkelola. Jadi sentuhan ‘art’nya sangat kurang. Belum lagi dengan jualan yang harus ditingkatkan seperti menunya. Makanannya harus bervariasi dan kalau bisa mencerminkan citarasa bulukumba. Kue-kue tradisional kan bisa dijual disana, bukan melulu mie instan. Kemudian belum adanya ruko yang menjual cinderamata adalah kesalahan fatal yang sebenarnya mereka tidak tahu. Hanya baju bertulis ‘bulukumba’ yang dijual tidak rapih di sana. Belum lagi dengan kualitas bahan yang kurang baik. So lagi-lagi hal2 kecil seperti ini harus mendapatkan perhatian penuh dari pengambil kebijakan, jangan hanya mementingkan pajak tanpa sentuhan yang baik dan maksimal.

So buat apa bikin promosi wisata kalau hal kecil seperti kebersihan saja tidak becus dikelola dengan baik??jangan bermimpi ingin mendatangkan ratusan wisatawan mancanegara kalau hal keindahan dan sentuhan seni saja tidak bisa diwujudkan?

Semoga tulisan ini menyadarkan pemerintah kalau industri pariwisata bukanlah persoalan main-main, tetapi merupakan program berkelanjutan karena fungsinya yang terus dimanfaatkan oleh masyarakat. Dan semoga bisa menyadarkan orang bulukumba, jangan sampai tanah kelahirannya tidak dirawat maksimal oleh pemerintah periode kali ini.

Kondisi Tanjung Bira Sangat Memperihatinkan

Masalah lingkungan akan tetap menjadi isu utama pada tahun 2012 ini. Karena dampak yang diberikan oleh aktornya terhadap kehidupan manusia dan kelangsungan ekosistem itu sendiri. Dan kerusakan lingkungan berdampak pada berbagai sektor  kehidupan, termasuk pariwisata. Karena lingkungan yang rusak akan memberikan ancaman keamanan bagi wisatawan, keindahan dari objek tersebut yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat karena menurunnya jumlah wisatawan.

Hal itu terjadi pada tanjung bira, sebuah tujuan wisata terkemuka di sulawesi selatan dengan pasir putih yang indah serta panorama alam yang mempesona. Tanjung bira menyajikan keindahan alam yang memikat hati wisatawan lokal maupun mancanegara. Kunjunganku kali ini merupakan yang pertama dan harus menerima kenyataan pahit, banyak sekali sampah laut yang terhampar di sepanjang pantai pasir putihnya. Terdapat banyak sampah botol dan kaleng, sisa rumput, pohon, dan organisme laut yang mati menjadi sampah yang sangat tidak mengenakkan. Merupakan kesan pertama yang tidak menyenangkan di tempat tersebut, meski jalanan masuk yang asri sudah menjanjikan nuansa alam yang indah di pantai itu.

Kamipun menghampiri salah seorang yang berada di pangkal pantai yang merupakan petugas kebersihan dari pantai tanjung bira. Dan wawancarapun berlanjut mengenai kondisi tanjung bira yang kotor. Berdasarkan penuturannya bahwa sampah ini merupakan sampah kiriman dari pulau dan daerah seberang akibat terjadinya angin musim barat. Angin itu berhembus mengarah ke sisi pantai yang mengakibatkan sampah yang berada di tengah laut akan tersapu menuju tanjung bira. Bukan kerusakan lingkungan katanya. Tetapi yang namanya kebersihan merupakan tanggung jawab kita bersama dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kemudian rumput laut dan karang2 yang hancur yang sedemikian banyak itu tidak mungkin terjadi kalau bukan ulah nelayan yang melakukan pengeboman. Suatu ciri dari masih terjadinya praktik menangkap ikan yang merusak.

Wawancarapun berlanjut, salah satu hal yang menyulitkan mereka karena jumlah tenaga kebersihan yang sangat kurang. Mereka hanya berjumlah 2 orang yang semuanya sudah berumur di atas setengah abad. Yang tidak mampu lagi berbuat maksimal dalam hal kebersihan. Kemudian upah pun tidak seberapa. Bahkan yang sangat parah adalah karena petugas kebersihan ini digaji oleh seorang pemerhati wisata asal daerah tersebut, bukan pemerintah. Sungguh ironis memang, ketika pemerintah menginginkan kotanya berkembang dan objek wisatanya dikenal dimancanegara tetapi tidak diimbangi dengan perawatan dan pembersihan yang maksimal. Yah begitulah jadinya kalau tidak ada perhatian yang cukup. Bahkan petugas kebersihanpun tidak ada. Ditambah lagi kesadaran dari penduduk sekitar yang kurang, karena hanya mereka berdua saja yang rela memungut dan membersihkan sampah di sekitar pantai.

Sungguh disayangkan memang, melihat potensi yang dimiliki daerah tersebut dibanding dengan kinerja pemerintah dan masyarakat sekitar. Padahal ada banyak cara yang bisa dilakukan. Duta pariwisata dara daeng bulukumba bisa mempromosikan dan mengangkat isu ini ke tengah masyarakat agar tidak menjadi pekerjaan tahunan yang berlalu begitu saja. Karena lingkungan yang kotor merupakan tanggung jawab bersama. Selain itu siswa SMA juga bisa diberdayakan dengan melakukan pembersihan pantai secara rutin (sadar wisata). Selain itu perlu juga slogan-slogan yang mengarahkan wisatawan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Dan koordinasi yang baik antara dinas pariwisata dan dinas kebersihan juga patut ditingkatkan mengingat pemerintah tetap menjadi aktor utama dalam pengelolaan kota dan objek wisatanya. serta penyadaran akan penangkapan ikan yang ilegal akan menyebabkan kerusakan pada ekosistem bawah laut dan pantai kepada nelayan perlu diadakan. Jadi hal kecil seperti ini perlunya diperhatikan selain promosi yang memakan banyak biaya.

Selain kebersihan, penataan objek wisata tanjung bira masih perlu mendapatkan perhatian yang serius. Terlebih pada penataan penjual yang berada di pangkal pantai. Pemasangan tiang-tiang, tenda yang semaunya sangat merusak pemandangan. Kayu-kayu dipasang sekenanya saja dan tidak tertata dengan rapi. Kayu-kayu yang hampir rapuh dibairkan begitu saja. Kayu gelondongan ‘diparkir’ begitu saja di tepi pantai. Sungguh tidak terkelola. Jadi sentuhan ‘art’nya sangat kurang. Belum lagi dengan jualan yang harus ditingkatkan seperti menunya. Makanannya harus bervariasi dan kalau bisa mencerminkan citarasa bulukumba. Kue-kue tradisional kan bisa dijual disana, bukan melulu mie instan. Kemudian belum adanya ruko yang menjual cinderamata adalah kesalahan fatal yang sebenarnya mereka tidak tahu. Hanya baju bertulis ‘bulukumba’ yang dijual tidak rapih di sana. Belum lagi dengan kualitas bahan yang kurang baik. So lagi-lagi hal2 kecil seperti ini harus mendapatkan perhatian penuh dari pengambil kebijakan, jangan hanya mementingkan pajak tanpa sentuhan yang baik dan maksimal.

So buat apa bikin promosi wisata kalau hal kecil seperti kebersihan saja tidak becus dikelola dengan baik??jangan bermimpi ingin mendatangkan ratusan wisatawan mancanegara kalau hal keindahan dan sentuhan seni saja tidak bisa diwujudkan?

Semoga tulisan ini menyadarkan pemerintah kalau industri pariwisata bukanlah persoalan main-main, tetapi merupakan program berkelanjutan karena fungsinya yang terus dimanfaatkan oleh masyarakat. Dan semoga bisa menyadarkan orang bulukumba, jangan sampai tanah kelahirannya tidak dirawat maksimal oleh pemerintah periode kali ini.

DutPar Makassar menjadi Duta Bangsa di 38th SSEAYP 2011

DUTA PARIWISATA MAKASSAR sebagai organisasi yang dibangun dengan proses seleksi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Makassar baru-baru ini mencetakkan prestasi membanggakan dari anggotanya. Salah satunya adalah pemenang Pertama Duta Pariwisata Makassar, Andi Muhammad Imran Zulkarnain, yang bulan Maret 2011 lalu terpilih mewakili Sulawesi Selatan dan Indonesia pada Pertukaran Pemuda Antar Negara Kapal Pemuda Asia Tenggara-Jepang atau dalam The Ship For Southeast Asian Youth Program (SSEAYP) yang ke 38 pada tanggal 24 Oktober-16 Desember 2011. Imran yang terpilih setelah melewati proses seleksi yang ketat di Dinas Pemuda dan Olah Raga Provinsi Sulawesi Selatan bersaing dengan 130 pemuda lainnya. Imran melewati tiga pos seleksi yaitu; seleksi bahasa inggris, kesenian dan psikologi hingga akhirnya dinyatakan terpilih untuk mengikuti program ini.
Sebelumnya, Imran yang masih aktif sebagai mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di Universitas Hasanuddin bersama 27 perwakilan lain dari 26 provinsi di Indonesia harus mempersiapkan diri guna mengikuti program ini mulai dari bulan April hingga September, sebelum mengikuti Pre Departure Training (PDT) oleh KEMENPORA di bulan oktober. Mulai dari seragam, tim kesenian dan materi pertunjukan, pengenalan dengan perwakilan lain dan membangun komunikasi serta perkembangan tema diskusi yang akan di lakukan di atas kapal. Selama persiapan tersebut Imran boleh berbangga karena terpilih juga menjadi ART DIRECTOR di kontingen Indonesia sehingga aktivitas kesenian selama program ini berjalan, menjadi tanggung jawabnya. Di PDT pun, kontingen Indonesia mendapatkan pelatihan kepemimpinan selama dua minggu untuk mempersiapkan pengetahuan dan mental dalam mengikuti program ini. Sehingga kontingen Indonesia setiap tahunnya selalu siap dan memberikan partisipasi aktif dalam program ini.
Program SSEAYP ini merupakan agenda rutin dari Cabinet Office di Jepang bekerja sama dengan Negara-negara Asean untuk mengirimkan pemuda-pemudi terpilih calon pemimpin masa depan. Program ini membawa 330 pemuda perwakilan 11 negara melintasi negara-negara asean dan jepang dengan menggunakan kapal pesiar Fuji Maru dari Jepang dengan misi perdamaian dan kebudayaan (mutual Understanding). Rute tahun ini adalah dimulai dari yokohama, Jepang, Filipina, Brunei, Indonesia, Malaysia, Vietnam dan kembali ke Jepang selama 53 hari.
Selama 53 hari itu, Participating Youth (gelaran buat peserta) harus mengikuti kegiatan di atas kapal (on board activities) dan country program. On Board Activities berisi kegiatan yang sangat menarik seperti Discussion Program, Solidary Group Activites yang berisi kegiatan saling memahami dan mempelajari kebiasaan dari negara lain, Club Activities yang mempelajari aneka kerajinan, massage ataupun tari tradisional dari negara lain. Di Discussion Group, seluruh Participating Youth memilih tema yang  sesuai dengan minat dan jurusannya, yang terdiri dari delapan tema internasional pilihan seperti:
1.    Corporate Social Contribution
2.    Cross Cultural understanding Promotion
3.    Environment
4.    Food and Nutrition Education
5.    Health Education
6.    International Relation Between ASEAN and Japan
7.    School Education, dan
8.    Youth Leadership Development



Aktivitas diskusi ini menjadi kegemaran bagi imran karena Participating Youth dari negara lain memiliki kapasitas yang sangat mumpuni dalam membangun dan membahas tema tersebut. Mereka juga merupakan orang pilihan yang memang memiliki basic school di bidang tersebut. Sehingga menjadi pengalaman yang tak terlupakan ketika mendapatkan pengalaman luarbiasa yang tidak dapat kita temukan dimanapun.
Sedangkan untuk Country Program seluruh peserta turun dari kapal untuk mengunjungi tempat-tempat pemerintahan dan bertemu langsung dengan kepala negara ataupun perwakilannya untuk bertemu dengan kontingen dari seluruh negara. Setelah itu, seluruh Participating Youth (PYs) kemudian berkesempatan untuk merasakan sendiri menjadi warga dari negara-negara yang dikunjungi dengan mengikuti Homestay dengan keluarga angkat dari setiap negara. Tujuannya adalah untuk lebih mengenal pola hidup dan pola pikir masyarakat tersebut. Oleh karena itu kegiatan ini sangat penting dan tak terlupakan dengan menjadi keluarga dari berbagai negara di ASEAN dan Jepang. Mencoba sesuatu yang baru dan unik, mengenal lebih dekat suasana keakraban dan mengunjungi tempat wisata dan bersejarah di negara tersebut. Dan itu semua didapatkan TANPA HARUS MENGELUARKAN UANG SEPESER PUN!!!

Program ini menjadi program impian bagi generasi muda seluruh asia tenggara karena dengan bergabung di program ini, peserta mendapatkan pengalaman yang sangat luarbiasa dan tak terduga. 28 orang terpilih dari puluhan juta pemuda Indonesia.
“Bangga menjadi bagian dari SSEAYP, bangga jadi bagian dari anak EMAS Indonesia” Kata Imran.

SELAMAT DATANG DI
KOMUNITAS DUTA PARIWISATA MAKASSAR