Industri Kreatif, Basis Pengembangan Pariwisata Indonesia

Saat ini, merupakan periode pengembangan ekonomi Indonesia berbasis Industri Kreatif, yaitu sekumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi. Industri ini memang baru diterapkan di Indonesia namun sudah dikenal di beberapa belahan dunia lain dengan sebutan yang berbeda. Seperti di Eropa dikenal dengan Industri Budaya dan beberapa negara lain menyebutnya sebagai Ekonomi Kreatif. Ide pokok dari Industri kreatif ini sebenarnya pemberdayaan manusia dengan kreativitas yang tinggi dan inovasi yang melahirkan sebuah kekuatan untuk mengubah dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.

Komponen-komponen di dalamnya sendiri terdiri dari periklanan, arsitektur, seni, kerajian, design, fashion, musik, dll. Kalau melibat lebih lanjut, pariwisata Indonesia juga tentunya saling berkaitan dengan Industri Kreatif, karena kreativitas manusia Indonesia telah melahirkan berbagai mahakarya yang menjadi daya tarik utama wisatawan mancanegara. Sebut saja budaya Bali, arsitektur bangunan Rumah-rumah adat di seluruh Indonesia, Tari dan musik tradisional, local wisdom dan masih banyak lagi. Semua itu adalah kekayaan bangsa yang menjadi daya pikat utama dalam hal pariwisata Indonesia. Oleh karena itu terdapat 15 Sub-Sektor Industri Kreatif Indonesia yang menjadi Visi ekonomi Indonesia hingga 2025 mendatang.

Sub-sektor yang merupakan industri berbasis kreativitas di Indonesia berdasarkan pemetaan industri kreatif yang telah dilakukan oleh Departemen Perdagangan Republik Indonesia adalah:
  1. Periklanan: kegiatan kreatif yang berkaitan jasa periklanan (komunikasi satu arah dengan menggunakan medium tertentu), yang meliputi proses kreasi, produksi dan distribusi dari iklan yang dihasilkan, misalnya: riset pasar, perencanaan komunikasi iklan, iklan luar ruang, produksi material iklan, promosi, kampanye relasi publik, tampilan iklan di media cetak (surat kabar, majalah) dan elektronik (televisi dan radio), pemasangan berbagai poster dan gambar, penyebaran selebaran, pamflet, edaran, brosur dan reklame sejenis, distribusi dan delivery advertising materials atau samples, serta penyewaan kolom untuk iklan. Kode KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha) 5 digit; 73100
  2. Arsitektur: kegiatan kreatif yang berkaitan dengan jasa desain bangunan, perencanaan biaya konstruksi, konservasi bangunan warisan, pengawasan konstruksi baik secara menyeluruh dari level makro (Town planning, urban design, landscape architecture) sampai dengan level mikro (detail konstruksi, misalnya: arsitektur taman, desain interior). Kode KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha) 5 digit; 73100
  3. Pasar Barang Seni: kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan barang-barang asli, unik dan langka serta memiliki nilai estetika seni yang tinggi melalui lelang, galeri, toko, pasar swalayan, dan internet, misalnya: alat musik, percetakan, kerajinan, automobile, film, seni rupa dan lukisan.
  4. Kerajinan: kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya, antara lain meliputi barang kerajinan yang terbuat dari: batu berharga, serat alam maupun buatan, kulit, rotan, bambu, kayu, logam (emas, perak, tembaga, perunggu, besi) kayu, kaca, porselin, kain, marmer, tanah liat, dan kapur. Produk kerajinan pada umumnya hanya diproduksi dalam jumlah yang relatif kecil (bukan produksi massal).
  5. Desain: kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain grafis, desain interior, desain produk, desain industri, konsultasi identitas perusahaan dan jasa riset pemasaran serta produksi kemasan dan jasa pengepakan.
  6. Fesyen: kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan desain aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultansi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen.
  7. Video, Film dan Fotografi: kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi produksi video, film, dan jasa fotografi, serta distribusi rekaman video dan film. Termasuk di dalamnya penulisan skrip, dubbing film, sinematografi, sinetron, dan eksibisi film.
  8. Permainan Interaktif: kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi, dan distribusi permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, ketangkasan, dan edukasi. Subsektor permainan interaktif bukan didominasi sebagai hiburan semata-mata tetapi juga sebagai alat bantu pembelajaran atau edukasi.
  9. Musik: kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi/komposisi, pertunjukan, reproduksi, dan distribusi dari rekaman suara.
  10. Seni Pertunjukan: kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha pengembangan konten, produksi pertunjukan (misal: pertunjukan balet, tarian tradisional, tarian kontemporer, drama, musik tradisional, musik teater, opera, termasuk tur musik etnik), desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung, dan tata pencahayaan.
  11. Penerbitan dan Percetakan: kegiatan kreatif yang terkait dengan penulisan konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, dan konten digital serta kegiatan kantor berita dan pencari berita. Subsektor ini juga mencakup penerbitan perangko, materai, uang kertas, blanko cek, giro, surat andil, obligasi surat saham, surat berharga lainnya, passport, tiket pesawat terbang, dan terbitan khusus lainnya. Juga mencakup penerbitan foto-foto, grafir (engraving) dan kartu pos, formulir, poster, reproduksi, percetakan lukisan, dan barang cetakan lainnya, termasuk rekaman mikro film.
  12. Layanan Komputer dan Piranti Lunak: kegiatan kreatif yang terkait dengan pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan komputer, pengolahan data, pengembangan database, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisis sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak dan piranti keras, serta desain portal termasuk perawatannya.
  13. Televisi dan Radio: kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha kreasi, produksi dan pengemasan acara televisi (seperti games, kuis, reality show, infotainment, dan lainnya), penyiaran, dan transmisi konten acara televisi dan radio, termasuk kegiatan station relay (pemancar kembali) siaran radio dan televisi.
  14. Riset dan Pengembangan: kegiatan kreatif yang terkait dengan usaha inovatif yang menawarkan penemuan ilmu dan teknologi dan penerapan ilmu dan pengetahuan tersebut untuk perbaikan produk dan kreasi produk baru, proses baru, material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru yang dapat memenuhi kebutuhan pasar; termasuk yang berkaitan dengan humaniora seperti penelitian dan pengembangan bahasa, sastra, dan seni; serta jasa konsultansi bisnis dan manajemen.
  15. Kuliner: kegiatan kreatif ini termasuk baru, kedepan direncanakan untuk dimasukkan ke dalam sektor industri kreatif dengan melakukan sebuah studi terhadap pemetaan produk makanan olahan khas Indonesia yang dapat ditingkatkan daya saingnya di pasar ritel dan passar internasional. Studi dilakukan untuk mengumpulkan data dan informasi selengkap mungkin mengenai produk-produk makanan olahan khas Indonesia, untuk disebarluaskan melalui media yang tepat, di dalam dan di luar negeri, sehingga memperoleh peningkatan daya saing di pasar ritel modern dan pasar internasional. Pentingnya kegiatan ini dilatarbelakangi bahwa Indonesia memiliki warisan budaya produk makanan khas, yang pada dasarnya merupakan sumber keunggulan komparatif bagi Indonesia. Hanya saja, kurangnya perhatian dan pengelolaan yang menarik, membuat keunggulan komparatif tersebut tidak tergali menjadi lebih bernilai ekonomis.
*Berbagai Sumber

Pengembangan Pariwisata Indonesia

Penulis:Nurul Azizah

Pariwisata memiliki peran penting dalam peningkatan pendapatan suatu daerah atau negara. Selain itu ia juga menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kebudayaan suatu daerah ke daerah lainnya. Industri pariwisata juga memberi andil dalam pembangunan sosial dan ekonomi, baik itu di Negara maju maupun berkembang

Indonesia merupakan daerah potensial untuk maju dan berkembang dari sektor pariwisata karena Indonesia menawarkan tempat–tempat indah untuk dijadikan objek wisata unggulan. Luas wilayah yang termasuk dalam salah satu Negara terbesar di dunia ditambah dengan kondisi alam yang luar biasa menakjubkan menjadikan Indonesia sebagai Negara yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Sayangnya, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Juli 2012 turun 5,94 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, yakni 745.500 menjadi 701.200 (Kompas.com/edisi 3 September 2012). Keterangan dari Kepala Badan Pusat Statistik, Suryamin, mengatakan bahwa penurunan ini terjadi mungkin dikarenakan memang terjadi pada bulan puasa lalu dan mendekati perhelatan olimpiade dan krisis Eropa yang masih berlanjut. Hanya saja jika dibandingkan Juni 2012 malah naik tipis sebesar 0,82 persen.

Tentu hal ini membuat kita berpikir keras bagaimana untuk menaikkan angka kunjungan wisatawan terutama yang berasal dari mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. Strategi pemasaran dan peningkatan sarana prasarana serta pemeliharaan tempat wisata yang dilakukan oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata harus lebih digenjot. Meskipun dalam hal ini peran pemerintah pusat lebih kepada bagaimana memasarkan, pihak swasta dan daerah juga seharusnya bahu membahu.

Dalam UU No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pasal 41 ayat 1 menegaskan tugas Badan Promosi Pariwisata untuk meningkatkan pencitraan pariwisata. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengevaluasi sejauh mana pencitraan mengenai Indonesia sudah dilakukan oleh badan ini.

Mari melongok ke Negara Asia Timur yang saat ini menjadi salah satu tujuan wisata utama dunia, terutama kawasan Asia. Korea Selatan mendapat kunjungan oleh wisatawan mancanegara sekitar 5,3 juta per tahun, diungguli oleh Republik Rakyat Cina dengan 30 juta wisatawan per tahun. Bagaimana dengan Indonesia?

Naiknya kunjungan wisatawan ke Korea Selatan merupakan salah satu efek dari Korean Wave yang sekarang sedang melanda kawasan Asia, tak ketinggalan Indonesia. Korean wave ini menarik minat masyarakat di Asia khususnya untuk melancong ke sana. Masyarakat Indonesia pun banyak yang ingin mengunjungi Negara tersebut karena ketertarikan mereka salah satunya pada tempat–tempat yang dilihat dalam drama dan film dari Korea Selatan.
Penulis mengakui kepiawaian pemain industri hiburan di Korea Selatan dalam memproduksi drama dan film yang tak hanya booming di negaranya sendiri, tapi juga di Negara lainnya. Ada apa dengan drama dan film tersebut sehingga menjadi magnet bagi masyarakat dunia untuk berkunjung ke Korea Selatan?

Sebelumnya mari kita lihat indutri hiburan di Negara kita, Indonesia, yang didominasi dengan hal–hal yang tidak mendidik. Sinetron Indonesia muncul dengan tema–tema cinta remaja berlebihan dan tidak sesuai dengan usia. Kemudian, kebencian yang begitu mendalam, dengki, perebutan harta, balas dendam, adegan yang tak layak tayang, pergaulan laki – laki dan perempuan yang tanpa batas, lokasi syuting yang hanya berkutat di tempat – tempat mewah menjadi sajian bangsa ini setiap hari.

Lalu Negara mana yang mau mengkonsumsi sinetron–sinetron tanpa akhlak tersebut? Beberapa stasiun televisi di Malaysia membuat langkah yang salah dengan menayangkan ini di negaranya. Sinetron yang bahkan harusnya tak layak ditonton oleh bangsanya sendiri.

Lalu bagaimana dengan industri perfilman? Ironis. Didominasi oleh fitnah sarat SARA, hal – hal mistik yang hanya butuh biaya sedikit tapi mendapat keuntungan besar karena ada orang – orang bodoh yang rela antri untuk menontonnya. Tak banyak film yang berkualitas apalagi yang mengambil lokasi syuting di tempat – tempat wisata.
Lalu bagaimana Korea Selatan, Negara kecil yang hingga hari ini masih belum berbaikan dengan ‘saudaranya’ di Utara?

Salah satu keunggulan drama Korea yang digandrungi oleh masyarakat hari ini terletak di lokasi syutingnya. Banyak drama Korea yang menjadikan tempat – tempat wisata mereka sebagai lokasi syuting. Efeknya, tempat – tempat tersebut menjadi objek wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik domestic maupun asing.
Lokasi syuting drama Winter Sonata (2002) di Pulau Nami membuat kunjungan ke pulau tersebut yang sebelumnya hanya 200.000 meloncat menjadi 1,6 juta kunjungan di tahun 2010. Pulau Jeju yang menjadi lokasi favorit untuk pengambilan drama di Korea Selatan. Di antaranya Boys Before Flower (BBF), Secret Garden, Dae Jang Geum, Thank You dan beberapa drama lain yang kita ketahui sangat booming di Indonesia. Bahkan Museum Teddy Bear makin banyak dikunjungi karena drama Princess Hours (Goong). Tak hanya itu, N Seoul Tower juga menjadi salah satu objek wisata favorit setelah kemunculannya di drama BBF dan Goong.

Selain lokasi syuting, alur cerita yang ditawarkan pun tidak berbelit – belit dengan jumlah episode yang minimalis. Selain itu, tema percintaan yang disajikan juga tidak berlebihan dan kadang disisipi dengan masalah sosial politik di Negara itu seperti drama King Two Hearts (2012). Kemudian, tak ketinggalan drama – drama produksi Korea Selatan juga memperlihatkan kebudayaan Negeri Ginseng tersebut yang terlihat dari drama seperti Dae Jang Geum, Hwang Ji Ni, Dong Yi dan drama lainnya yang menggambarkan Korea di zaman Joseon.

Kekuatan inilah menjadikan Korea Selatan sangat menarik untuk dikunjungi. Lokasi dan sejarah yang mencerminkan kebudayaan Korea Selatan di drama TV. Kedua hal ini yang belum kita temukan di sinetron maupun film di Indonesia.

Penulis berharap, pemerintah mampu mendorong industri hiburan untuk menghasilkan hiburan – hiburan yang dapat dijual di Negara lain. Hiburan yang menggambarkan Indonesia seutuhnya dari segi geografis maupun sejarah besar bangsa ini. Untuk para pemilik industri hiburan harapan besar itu selalu ada. Mereka yang berkecimpung di dunia hiburan penulis yakini mampu memberikan gambaran tentang Indonesia. Bukan lagi tentang hal – hal SARA sarat kontroversi hingga hal mistik yang tak masuk akal, melainkan pencitraan Indonesia sebagai Negara yang aman, indah dan berbudaya.

sumber: http://haluankepri.com/opini-/35210-pengembangan-pariwisata-indonesia.html

MENJAGA PARIWISATA INDONESIA SEBAGAI NILAI JUAL BANGSA



Baru-baru ini kompas telah merilis berita mengenai kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sebesar 5, 16 % yaitu mencapai 8.044.462 orang. Data ini dikutip di harian Kompas dari UNWTO (United Nations World Tourism Organization). Jumlah tersebut merupakan akumulasi kedatangan pada bulan Januari hingga Desember 2012. Angkat tersebut melebihi pencapaian sebelumnya di tahun 2011, sehingga dengan kenaikan kunjungan tersebut menjadi prestasi yang membanggakan bagi seluruh Indonesia. Terlelbih pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang dikomandoi oleh Ibu Marie Elka Pangestu. Bukan itu saja, sebelumnya Indonesia meraih  Go Asia Award tahun 2012 di Berlin, dengan menjadi destinasi favorit ketiga setelah Thailand dan Singapura.

Hal tersebut tidak mengejutkan mengingat komitmen pemerintah Indonesia untuk menggelar berbagai program dan kunjungan wisata di banyak daerah. Sebut saja Visit Lombok 2012, Visit Sulawesi 2012, Visit Banda, Visit Babel 2009, Visit Makassar and Beyond2011-2014 dan masih banyak lagi. Program tersebut tentunya memiliki andil yang relatif besar demi mencapai target kunjungan wisatawan yang terus meningkat. Betapa tidak, orang-orang dan pemerintah daerah tentunya sudah tahu persis potensi wisata yang bisa dikembangkan dari daerah masing-masing. Selain tentu saja yang paling mengetahui potensi masing-masing daerah adalah pemerintah daerah. Sehingga kucuran dana dari pemerintah pusat merupakan modal untuk membuktikan sendiri, kemampuan pengelolaan otonom pemerintah masih bisa diperhitungkan.

Selain itu, tren wisatawan abad ke 21 yang mengarah pada wisata alam dan budaya dengan ciri conservationist dengan melihat kebutuhan wisata pada alam dan budaya yang dapat menyegarkan pikiran bagi wisatawan. Dan seperti kita ketahui bahwa Indonesia dengan keragaman alam dan budayanya menjadi warisan tak ternilai yang harus dijaga, diwariskan dan dieksplorasi sehingga tidak hanya eksis dikemudian hari, tapi juga memberikan nilai beneficial kepada masyarakatnya. Sebut saja upacara-upacara yang secara ritual dilaksanakan setiap tahun, 2 tahun, oleh local people di dalamnya. Tentunya pemerintah harus berpikir bagaimana caranya bisa mempromosikan keunikan tersebut, tapi ada kepuasan di dalamnya. Baik dari segi materil apalagi moril. Apalagi upacara-upacara adat memakan biaya yang sangat besar, seperti Rambu Solo yang bisa menghabiskan miliyaran untuk sekali acara. Jangan sampai hal itu lewat terbiarkan saja tanpa ada keuntungan timbal balik bagi masyarakat. Itulah pentingnya pariwisata yang ter-organize dengan baik.

Selain itu dengan jumlah penduduk Indonesia terbesar keempat di dunia, tentunya menjadi pasar yang sangat baik bagi industry hiburan tanah air dan mancanegara. Artis-artis ternama dunia menjadikan Indonesia sebagai negara yang tidak bisa dilewatkan dalam tour dunianya. Oleh karena itu, kemunculan industri-industri organizer akan sangat baik ke depan, untuk bisa mengelola konser bagi Indonesia. Dan tentunya peluang untuk mendatangkan wisatawan negara tetangga yang tidak kebagian konser, akan sangat baik sebagai tambahan kunjungan wisatawan sehingga perkembangan interaksi dalam dunia pariwisata Indonesia menjadi semakin kompleks dan dinamis.

Hanya saja Indonesia dinilai masih perlu untuk mencari strategi baru untuk terus mempromosikan tempat wisata andalan. Seperti dengan mengoptimalkan kemajuan teknologi virtual Internet. Promosi wisata online dirasakan telah menjadi alat yang utama untuk menarik wisatawan dengan biaya yang relatif murah. Seperti menggunggah video pariwisata di youtube merupakan solusi cerdas dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Karena dengan mudah, calon wisatawan biasanya search di internet, untuk menentukan daerah mana yang harus mereka kunjungi di musim liburannya. Akan tetapi hal ini masih belum diaplikasikan matang oleh pemerintah. Dan ini salah satu catatan penting bagaimana kedepan Indonesia harus lebih gencar mempromosikan Indonesia dengan cara yang mudah dan biaya yang murah.

Selain itu pemeliharaan tempat wisata menjadi sangat penting. Betapa mengejutkan jika wisatawan masih merasakan sulitnya mendapatkan toilet yang bersih, bangunan yang tidak terawat, fasilitas ibadah, dan masih banyaknya sampah yang berseliweran di tempat-tempat wisata. Untuk kasus Benteng Rotterdam, saat ini pemeliharaan gedung sudah sedemikian baik, namun tidak diikuti dengan pemelihaan toilet yang masih terkesan jorok. Hal itu juga terjadi di banyak tempat wisata di seluruh Indonesia. Alokasi pemeliharaan yang kurang ditambah dengan budaya setempat yang belum menghargai kebersihan menjadi daftar panjang PR pariwisata kita. Sungguh ironis memang, karena hal itu hampir terjadi di semua objek wisata di Indonesia. Potensi wisata yang maha besar seperti Indonesia kalau tidak dikelola dengan baik, tentunya tidak akan berbuah maksimal.

Mari kita melihat tetangga kita misalnya, Singapura yang menjadi negara bersih dengan fasilitas Toilet, rest room atau kamar kecil yang bagus. Objek wisata yang tidak sebanyak kita, bisa dipoptimalkan dengan baik. Dikonsep dan dirancang semenarik mungkin, sehingga wisatawan datang berbondong-bondong. Padahal wilayahnya hanya seperempat pulau Madura. Begitu juga dengan Jepang yang sudah diketahui sangat bersih dan peduli akan pemeliharaan toilet kini saatnya, hal sekecil ini tidak boleh dibiarkan pemerintah dan masyarakat kita untuk terus sadar peran sadar posisi. Bahwa wisatawan membutuhkan kenyamanan atau biasanya dikenal dengan sapta pesona yaitu, 7 pesona destinasi wisata yaitu: aman, nyaman, bersih, rindang, tertib, dll.
Sebagai negara dengan tujuan wisata terfavorit di Asia kita harus berbangga dan mengupayakan untuk melakukan perubahan sehingga kita bisa mempertahankan citra baik di dunia internasional. Apalagi dengan pertumbuhan wisatawan yang mencapai 1.035 miliyar di tahun 2012 oleh UNWTO, setidaknya kita bisa merasakan keuntungan dibalik kunjungan wisatawan tersebut. Karena aktivitas pariwisata tak lain akan memberikan percikan kehidupan bagi masyarakat Indonesia. Jadi jagalah warisan budaya, alam seperti pantai, lembah, bukit dan danau dan segala instrument di dalamnya karena hal tersebut merupakan nilai jual pariwisata Indonesia di dunia internasional.

*Berbagai Sumber

Eksistensi Duta Pariwisata Makassar







Salam pariwisata…!
Apa kabar duta wisata Indonesia? Semoga kita bisa dan telah memberikan kontribusi positif bagi perkembangan dunia pariwisata tanah air. Setelah memasuki tahun 2013 ini, Komunitas Duta Pariwisata Makassar sudah genap berusia dua tahun. Meski masih berusia seumur jagung, komunitas yang dibentuk melalui hasil seleksi Duta Pariwisata Makassar pada tahun 2011 lalu oleh Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Makassar, sudah terlibat aktif dalam setiap perhelatan kegiatan pariwisata. Ada banyak moment dan kenangan yang dihasilkan dan semua itu tak lain karena apresiasi dari pemerintah yang sudah mulai sadar mengingat pentingnya generasi muda untuk dilibatkan dalam setiap kegiatan pariwisata.

Meskipun masih di bawah petunjuk dan arahan dari DISBUDPAR, kami sadar bahwa apa yang telah kami lakukan belumlah apa-apa. Masih panjang masa dimana kita harus berkontribusi lebih terhadap daerah kita. Masih banyak yang perlu dilakukan dan dibenahi. Baik dari seleksi duta pariwisata, pengelolaan tempat wisata, kunjungan wisata dan sosialisasi event pariwisata. Semua itu harus dioptimalkan sehingga bisa diambil manfaat yang sebesar-besarnya. Karena berbicara mengenai pariwisata ada banyak stakeholder yang terlibat di dalamnya. Ada pelaku seni, travel, pemerintah, masyarakat, industri hiburan, pedagang kaki lima, turis lokal maupun mancanegara yang tentunya diharapkan bisa memberikan pengetahuan tentang daerah kita dan perbaikan ekonomi pada setiap stakeholder tersebut.

Mungkin ada banyak kekurangan pada setiap penyelenggaraannya, tapi saya harap semua itu bisa diperbaiki dan diperhitungkan secara seksama, dan menjadi tanggung jawab kita bersama dalam menyelenggarakan event pariwisata di Makassar. Tanpa dukungan dari masyarakat seluruh kegiatan tersebut berjalan tidak maksimal. Oleh sebab itu, jangan ketinggalan untuk menyaksikan event pariwisata di Makassar, dan selaku duta pariwisata kami akan terus memberikan liputan, updating dan informasi mengenai destinasi wisata favorit di Makassar, yang kiranya bisa anda kunjungi pada liburan anda.

Warga Makassar elok bertegur sapa
Sekali jalan ada cinta di hadapan mata
Di Makassar kita akan berjumpa
Di sinipula anda rasakan nikmatnya berwisata










 

BENTENG ROTTERDAM, Wisata Sejarah di Makassar


Benteng Ujung Pandang atau yang lebih dikenal sekarang sebagai Fort Rotterdam merupakan salah satu objek wisata sejarah unggulan kota Makassar. Benteng ini dibangun pertama kali oleh Raja Gowa X Imarigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng pada tahun 1545 yang kemudian dianeksasi oleh Belanda yang menjadikannya sebagai pusat pemerintahan, militer dan administrasi Belanda di bawah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Cornelis Janszoon Speelman (1681-1684). Dari sinilah benteng Ujung Pandang berubah nama menjadi Benteng Rotterdam, sesuai dengan kota kelahiran speelman, aktor genosida 40.000 warga Sulawesi Selatan.

Struktur bangunan Benteng Ujung Pandang ini awalnya terbuat dari tanah liat, yang kemudian atas inovasi Sultan Alauddin, Raja Gowa XIV, bahan tersebut digantikan oleh batu padas yang bersumber dari pegunungan karst yang ada di Kabupaten Maros. 

Beberapa orang menyebut benteng ini sebagai benteng Pannyua, karena bangunan benteng yang berbentuk seekor penyu. Bentuk ini memiliki nilai filosofis tersendiri bagi laskar kerajaan Gowa yang memiliki semangat tempur seperti penyu, yang bisa Berjaya di darat maupun di laut (air). Layaknya Seperti hewan penyu yang hidup di laut dan berkembang biak di daratan.

Benteng yang berbatasan langsung dengan pesisir pantai losari ini, kemudian direbut oleh pihak Belanda dan dijadikan pusat pemerintahan gubernur Hindia Belanda di kawasan Sulawesi. Hal itu ditandai dengan Perjanjian Bongaya (18 November 1667), yang ditandatangani oleh Pihak Belanda (VOC), Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa yang menjadi pihak kalah pada perebutan wilayah dan perdagangan di kawasan Makassar. Sejak saat itu pula bangunan di dalam benteng dihancurkan oleh Speelman digantikan menjadi bangunan baru dengan arsitektur kental Belanda.

Di benteng ini pula, tokoh revolusioner dan pahlawan nasional Indonesia, Pangeran Diponegoro ditahan oleh Belanda akibat kelicikannya dalam perundingan damai. Ruang tersebut berukuran sedang dengan dinding kokoh yang memiliki pintu melengkung yang rendah. Sehingga jika memasuki ruang tahanan ini, pengujung harus tunduk untuk memasukinya. Ruangan tersebut juga sangat gelap, meskipun demikian, terdapat tempat tidur dan sajadah buat shalat bagi sang Pangeran. Setelah penahanannya, beliau wafat di tempat itu dan dimakamkan di kawasan sebelah utara benteng yang saat ini beralamat, Jalan Sultan Diponegoro.

Selain sel tahanan Sultan, pengunjung saat ini masih bisa menikmati hampir seluruh bangunan utuh dari Benteng Rotterdam. Dimana di dalamnya terdapat bekas Gereja tua dan bangunan lain yang beralih fungsi menjadi Museum La Galigo dibawah kendali UPTD Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar.

Untuk menjangkau kawasan ini, dari bandara, anda bisa melewati jalan tol, atau menggunakan angkutan umum, menuju pantai losari. Dari pantai losari, anda hanya perlu berjalan sekitar 15 menit ke arah utara, mengikuti arah lalulintas. Di sekitar benteng ini, terdapat pusat Jajanan dan oleh-oleh khas Makassar, yakni di jalan somba opu. Dan beberapa hotel ternama seperti Makassar Golden Hotel, Pantai Gapura Hotel, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu jika anda berkunjung di Benteng Rotterdam, jangan lewatkan mengunjungi tempat lain di kawasan ini sebagai destinasi wisata anda di Makassar.

Salam dari duta pariwisata…










SELAMAT DATANG DI
KOMUNITAS DUTA PARIWISATA MAKASSAR